Wilujeng Sumping di Blog Sim Kuring

19 Februari, 2008

Basa Indung

Basa Sunda, Jangan Sampai Terpinggirkan di Rumah Sendiri
Feny Selly Pratiwi Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad


“Ning lu dah ngerjain PR belon?” ucap seorang bocah yang melintas didepan saya saat akan berangkat kuliah. Kata-kata yang diucapkan bocah itu cukup membuat saya heran. Bukan basa sunda yang mereka pakai tapi bahasa yang jauh dari unsur kedaerahan setempat.
Apa jadinya bila bahasa daerah punah? Tentu nuansa kedaerahan takkan terlihat. Kebanggaan akan daerah memudar dan kekeluargaaan antar penggunanya takkan terasa. Bukan hanya itu semangat keanekaragaman yang terkenal dari bangsa kita takkan dapat lagi dibanggakan.
Hal ini begitu saya sadari mengingat saya merupakan perantau. Tatkala bertemu rekan sedaerah, bahasa daerah kerap menjadikan nuansa kekeluargaan dan kebanggaan akan daerah. Logat yang khas kental dalam tiap percakapan kita. Terkadang membuat orang lain yang mendengar tertarik dan penasaran untuk tahu artinya. Sungguh betapa menyenangkannya bisa menggunakan bahasa ibu di kota orang dengan sesama perantau .
Bahasa ibu, dalam hal ini bahasa daerah, pada dasarnya merupakan kekayaan bangsa kita yang tak ternilai.Indonesia sendiri tercatat sebagai negara kedua yang paling banyak memiliki bahasa ibu setelah Papua Niugini. Secara total, jumlah bahasa ibu di Indonesia ada 706, sedangkan di Papua Niugini ada 867. Hampir separuh dari bahasa yang ada di Indonesia tesebar di wilayah Papua.
Ini berarti bahwa Negara kita memiliki ratusan macam bahasa yang wajib untuk dipertahankan eksistensinya. Di Papua Nugini sendiri semua macam suku dapat hidup berdampingan dengan ratusan macam bahasa yang berbeda di tiap daerah dan suku apalagi Indonesia yang terhitung di atas dengan jumlah wilayah yang jauh lebih luas dengan Papua Nugini namun memiliki selisih jumlah bahasa daerah yang lebih kecil.
Akan sangat keliru bila bahasa daerah dijadikan sasaran penyebab perpecahan bangsa. Banyak bangsa yang bisa hidup berdampingan, meski memang kesalahan persepsi tidak dapat dihindari karena itu lumrah, namun di luar itu mereka tetap dapat saling mengerti dan berdampingan . Tentunya secara logika Indonesia akan lebih baik dalam menjaga eksistensi bahasa daerah yang memperkaya sekaligus sebagai asset tak ternilai budaya negara.
Yang seharusnya dituding sebagai penyebab adalah budaya pop global dan mindset indonesia yang jakarta sentris dan mindset dunia yang Amerika sentris menyerang generasi muda melalui media dengan gencar. Itupun hampir membuat sebagian orang muda meninggalkan bahasa indungnya. Seringnya kaum muda lebih bangga menggunakan bahasa dengan tata bahasa yang kacau namun ngena. Ketimbang lidahnya diribetkan dengan bahasa daerah yang dianggap sudah tidak jamannya lagi.
Di daerah dimana saya merantau sekarang (baca-bandung dan jatinangor) pengaruh budaya pop global pada pemilihan bahasa sehari-hari sangat jelas terlihat. Entah itu dikarenakan pola hidup kaum muda yang berkiblat pada media ataupun pengaruh pergaulan yang campur dengan pendatang.
Sebagai pendatang, saya merasakan hampir tak bersentuhan dengan basa sunda. Berbeda dengan teman-teman saya yang merantau di daerah yang menggunakan bahasa jawa seperti Yogyakarta dan Malang.Lingkungan dengan atmosfir bahasa jawa yang kuat dari tingkatan ngoko hingga kromo inggil yang kental dalam keseharian masyarakat dan pergaulan membuat pendatang mau tak mau berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan.
Hal inilah yang sangat saya harapkan saat pertama kali menginjakkan kaki di jawa barat. Ironis memang ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa penduduk yang bangga akan bahasa ibunya (baca basa Sunda) terpinggirkan bahkan terkontaminasi dengan pendatang yang menggunakan bahasa pop dalam keseharian.
Mengutip dari sebuah tulisan dalam Pikiran Rakyat terbitan 15 Februari 2007, dicantumkan bahwa “Penutur bahasa Sunda di Kota Bandung hanya tersisa 30%. Itu pun terbatas pada kalangan pelajar yang sedang mengikuti kegiatan belajar-mengajar bahasa Sunda di sekolah. Diperkirakan pada tahun 2010 tidak ada lagi urang Bandung yang menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari“.
Menyedihkan memang apabila bahasa yang telah dipakai selama berabad-abad bisa musnah dalam beberapa tahun saja. Padahal basa sunda sama unik dan menariknya dengan bahasa jawa. Cukup mengherankan bila pendatang sulit untuk terkontaminasi dalam atmosfir keunikan ragam rawi-nya.
Untuk hal ini, pemerintah tak bisa selalu disalahkan dengan kenyataan yang terjadi. Usaha yang dilakukan pemerintah cukup banyak diantaranya dibuatnya Dalam UU No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB) termasuk di dalamnya bahasa daerah, dan Peraturan Daerah (Perda) No. 5 tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra dan Aksara Daerah.
Pelajaran basa sunda di beberapa sekolah di Jawa Barat yang dinilai telalu kaku dan tidak membumi juga tidak boleh dipandang sebagai penyebab. Karena pelestarian bahasa ibu tidak tertancap dari buku-buku pelajaran melainkan kebanggaan gurunya akan bahasa setempat.
Untuk bisa benar-benar mencagarkan basa Sunda harus dimulai dari tiap insan-insan berjiwa sunda yang lahir, menetap, dan berdarah sunda untuk meninggalkan keraguannya pada basa Sunda. Memberikan atmosfir basa sunda pada pendatang tentung akan menyenangkan, sama menyenangkan nya saat kita membuat orang lain sadar bahwa mengenal banyak bahasa itu penting.
Dalam rangka melestarikan bahasa nan unik dan membanggakan di tanah sunda ini .Saya mengajak semua orang yang ada di tanah sunda untuk lebih mencintai bahasa daerahnya. Buatlah kami para pendatang bangga dan terdorong untuk berpartisipasi dalam pelaestarian basa sunda.
Tak lama lagi tahun ajaran baru pendidikan akan segera tiba. Ini berarti akan ada ribuan pendatang muda yang menuntut ilmu baik di Bogor, Bandung maupun beberapa kota di Jawa Barat. Berhubungan dengan kecintaan pada budaya Sunda dan makin banyaknya pendatang, hal ini dilihat dari dua sisi pandang. Sisi yang pertama adalah sisi negatif, dimana tantangan untuk bisa mempertahankan basa Sunda jadi lebih sulit. Sisi kedua, sisi positif dimana ini dapat menjadi sarana Urang Sunda untuk memperkenalkan keunikan dan keindahan basa Sunda pada pendatang.
Bahasa daerah sebagai pengantar sehari-hari. Akan menjadi salah satu upaya penguatan kebanggaan akan budaya sendiri dan pelestarian bahasa indung untuk kedepannya. Harus dimulai dari orang muda dan lingkungan sekitarnya. Secara pribadi harapan saya besar bahasa sunda mampu mempengaruhi para pendatang untuk menjadi pengguna demi kelestarian basa sunda dan penambahan pengetahuan, serta kemudahan berkomunikasi dengan penduduk asli demi pelestarian dan penanaman kecintaan pada bahasa daerah setempat.

YANG BERUSAHA MENCINTAI BASA SUNDA_

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com