Wilujeng Sumping di Blog Sim Kuring
Tampilkan postingan dengan label Warta Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Pendidikan. Tampilkan semua postingan

12 Februari, 2008

Ajarkan Sastra Sebagai Gambaran Pengalaman Hidup

Oleh TARDI SUTARDI, S.Pd.
"Pengalaman adalah guru yang paling baik". Kata-kata bijak ini masih efektif sampai sekarang, karena hakikat pendidikan merupakan proses transfer pengalaman dari generasi ke generasi. Pembelajaran karya sastra diharapkan menjadi salah satu sub bagian dari hakikat pendidikan yang paling lengkap, yang dapat mentransfer ilmu pengetahuan, moral, etika dan budaya.
KARYA sastra ditulis atau dipentaskan bertujuan agar pembaca atau penonton mempunyai gambaran fiksi yang dapat diaplikasikan ke dalam realita kehidupan. Karya sastra, terutama jenis prosa dan drama, dibangun dengan suatu kisah. Dilengkapi unsur intrinsik dan unsur ekstrinsiknya dengan segala aspek-aspek kehidupan, seperti lingkungan, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, pertahanan keamanan nasional (lipoleksosdikbudhankamnas). Pembaca atau penonton diharapkan dapat mengambil pelajaran yang selanjutnya dapat menimbang, memilih, dan mengimplementasikannya untuk memperbaiki dirinya, yang sedang dan akan dilakukannya. Hal inilah yang diharapkan, karya sastra menjadi gambaran pengalaman dari realita kehidupan.
Di dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, pembelajaran sastra bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan mengapresiasi dan berekspresi.
Ada beberapa masalah yang terungkap dari hasil pengamatan tindakan kelas yang dilakukan penulis.
1. Secara umum, kita sebagai guru banyak terjebak oleh tujuan atau kompetensi yang penjabaran indikatornya hanya sampai pengetahuan, pemahaman dan praktik berbahasa saja, tanpa dilandasi aspek sosial dan budaya atau keharusan mengimplementasikannya ke dalam kehidupan bermasyarakat setelah selesai pembelajaran. Kita puas, siswa kita dapat menjawab soal-soal yang diberikan baik di US maupun di UN, kurang peduli terhadap perubahan perilaku anak setelah tuntas pembelajaran atau nanti setelah lulus dari sekolah.
2. Kurangnya inovasi dalam memilih bahan atau media pembelajaran, cara mengapresiasi dan ekspresi karya sastra sehingga menjenuhkan bagi siswa. Jarang memanfaatkan isu lingkungan alam terbuka sebagai media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
3. Anggapan yang salah, bahwa mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia dianggap paling mudah untuk dipelajari.
Di dalam pembelajaran karya sastra banyak yang paham tokoh itu antagonis jahat, sifat dan karakternya tidak baik, dicela oleh orang lain, tetapi tidak mengetahui bahwa dirinya sama dengan tokoh tersebut. Di tahun 1960-an sebutan tokoh Si Kabayan dalam dongeng Sunda sangat dihindari oleh semua orang karena karakter pemalasnya. Sekarang, karya sastra hanya dianggap sebagai hiburan, tontonan atau bacaan cerita fiksional saja.
Kita coba beberapa hal yang mungkin dapat kita lakukan dalam pembelajaran karya sastra yang berkaitan dengan teori di atas.
1. Tanamkan dan tumbuhkan kepada siswa bahwa dalam kehidupan itu perlu melihat pengalaman dan menjadikannya sebagai pelajaran. Bantulah mereka dalam mengungkap pesan cerita agar mereka dapat memilih dan memilah, yang boleh atau yang tidak boleh dilakukan dengan menyertakan akibat-akibatnya. Tunjukkan bahwa pengalaman tidak hanya dari kehidupan nyata, tetapi juga di dalam cerita fiksi yakni karya sastra, sepanjang karya sastra tersebut dapat dipahami secara logis. Tunjukkan bahwa yang terpenting dalam pembelajaran bukan hanya nilai evaluasi tetapi nilai kemampuan mengimplementasikannya di dalam kehidupan.
2. Memilih bahan yang menyenangkan siswa merupakan salah satu cara menghilangkan kejenuhan. Sudah waktunya media TV, media cetak atau lingkungan terbuka dijadikan salah satu alternatif media pembelajaran. Kita coba cerita-cerita yang disukainya dijadikan bahan pembelajaran apresiasi sastra. Kita coba lingkungan dijadikan inspirasi dalam berekspresi. Penulis masih ingat acara wayang golek dari RRI Bandung, sekitar tahun 1970-an. Di akhir cerita biasanya diulas dengan nada yang puitis oleh salah satu penyiar. Cara seperti itu sangat menyentuh hati. Orang awam wayang pun menjadi paham isi pesan dari cerita wayang tersebut sehingga menjadikannya sebagai pembelajaran hidup. Hal yang sama dapat kita ikuti jejak pengasuh Percil dalam menganalisis pesan sebuah pembelajaran karya sastra.
3. Hindari anggapan bahasa dan sastra Indonesia itu mudah. Jadikanlah pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang penting dipelajari. Tumbuhkan motivasi bahwa bahasa Indonesia itu sebagai bagian terpenting dari orang-orang yang sukses dalam kariernya. Untuk para guru, tidak memaksakan diri menjadi guru bahasa dan sastra Indonesia jika hanya dijadikan pilihan kedua atau batu loncatan. Lakukan penyetaraan atau pengembangan karier yang berkualitas jika kita senang menjadi guru bahasa tetapi kompetensi kita tidak sesuai.***

Penulis, guru bahasa dan sastra Indonesia MTs. Al-Mukhlisin Bojongsoang Kab. Bandung.

Read More......

23 Januari, 2008

Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru

Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru
Oleh Dede Mohamad Riva, S.Pd.

Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik.
Profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip profesional. Mereka harus (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, (2) memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya, (3) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya.
Di samping itu, mereka juga harus (4) mematuhi kode etik profesi, (5) memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan, (8) memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya, dan (9) memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum (sumber UU tentang Guru dan Dosen).
Bila kita mencermati prinsip-prinsip profesional di atas, kondisi kerja pada dunia pendidikan di Indonesia masih memiliki titik lemah pada hal-hal berikut.
  1. Kualifikasi dan latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan bidang tugas. Di lapangan banyak di antara guru mengajarkan mata pelajaran yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang dimilikinya.
  2. Tidak memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas. Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, seorang guru selain terampil mengajar, juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik.
  3. Penghasilan tidak ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.
    Sementara ini guru yang berprestasi dan yang tidak berprestasi mendapatkan penghasilan yang sama. Memang benar sekarang terdapat program sertifikasi. Namun, program tersebut tidak memberikan peluang kepada seluruh guru. Sertifikasi hanya dapat diikuti oleh guru-guru yang ditunjuk kepala sekolah yang notabene akan berpotensi subjektif.
  4. Kurangnya kesempatan untuk mengembangkan profesi secara berkelanjutan. Banyak guru yang terjebak pada rutinitas. Pihak berwenang pun tidak mendorong guru ke arah pengembangan kompetensi diri ataupun karier. Hal itu terindikasi dengan minimnya kesempatan beasiswa yang diberikan kepada guru dan tidak adanya program pencerdasan guru, misalnya dengan adanya tunjangan buku referensi, pelatihan berkala, dsb.
    Profesionalisme dalam pendidikan perlu dimaknai he does his job well. Artinya, guru haruslah orang yang memiliki insting pendidik, paling tidak mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Guru harus memiliki sikap integritas profesional. Dengan integritas barulah, sang guru menjadi teladan atau role model.Menyadari banyaknya guru yang belum memenuhi kriteria profesional, guru dan penanggung jawab pendidikan harus mengambil langkah. Hal-hal yang dapat dilakukan di antaranya (1) penyelenggaraan pelatihan. Dasar profesionalisme adalah kompetensi. Sementara itu, pengembangan kompetensi mutlak harus berkelanjutan. Caranya, tiada lain dengan pelatihan.

Read More......

22 Januari, 2008

Sistem Belajar "Murder"


Sistem Belajar "Murder" Ada salah satu tip dalam mengembangkan sistem belajar yang efektif dan efisien. Sistem belajar ini dikenal dengan "MURDER", yang terdiri dari:
  • Mood * Understand * Recall * Digest * Expand * Review Mood - Suasana Hati: Ciptakan selalu mood yang positif untuk belajar. Ini bisa dilakukan dengan menentukan waktu, lingkungan dan sikap belajar yang sesuai dengan pribadimu.
  • Understand - Pemahaman: Tandai informasi bahan pelajaran yang TIDAK kamu mengerti dalam satu unit. Fokuskan pada unit tersebut atau melakukan beberapa kelompok latihan untuk unit itu.
  • Recall - Ulang: Setelah belajar satu unit, berhentilah dan ulang bahan dari unit tersebut dengan kata-kata yang kamu buat SENDIRI.
  • Digest - Telaah: Kembalilah pada unit yang tidak kamu mengerti dan PELAJARI KEMBALI keterangan yang ada. Lihatlah informasi yang terkait pada artikel, buku teks atau sumber lainnya, atau diskusikan dengan teman atau guru/dosen.
  • Expand - Kembangkan: Pada langkah ini, tanyakan tiga persoalan berikut terhadap materi yang telah kamu pelajari: Andaikan saya bertemu dengan penulis materi tersebut, pertanyaan atau kritik apa yang hendak saya ajukan?, Bagaimana saya bisa mengaplikasikan materi tersebut ke dalam hal yang saya sukai?,Bagaimana saya bisa membuat informasi ini menjadi menarik dan mudah dipahami oleh siswa/mahasiswa lainnya?
  • Review - Pelajari Kembali: Pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari. Ingatlah strategi yang telah membantu kamu mengerti dan/atau mengingat informasi. Jadi, terapkan strategi tersebut untuk cara belajarmu berikutnya.

sumber: internet

Read More......
Template by : kendhin x-template.blogspot.com